Aku tumpahkan dengan sengaja Kalimat cinta kasih dan kerinduan Aku kira aku akan segera berakhir di tepian Tak bernyawa Tak berjiwa Tak punya apa-apa Aku kira aku akan jatuh Dimana tak seorangpun melihat dan mendengar Hingga kutemukan bintik kecil di kejauhan Tak terang namun terasa hangat Kucoba menggapainya Kesederhanaan rupanya Dialah cintaku Yang setiap waktu tumbuh bersama Entah bagaimana aku bisa menggambarkan Terlalu sulit untuk menjadi jelas Aku kira aku akan berakhir menjadi Umpan kehidupan Yang ditelan mentah-mentah oleh cerdiknya dunia Aku kira aku akan mati Segera berakhir tak kenali apapun Hingga kutemukan dirinya yang perlahan berwujud Dialah kasihku Yang setiap pagi kunantikan tawanya Menunggu kabarnya dari seberang Sentuhan kulit yang tak terlalu halus Tapi sangat kuat Kini aku bisa merasakannya Tak banyak harapan yang aku sebutkan Biarlah kita berjalan beriringan Untuk beberapa ribu tahun kemudian Perihal mengingatmu Aku ...
Beberapa tahun silam Saat dingin mulai mencekam Kulihat bayangan wajah mungil di genangan, bekas hujan semalaman Langkahku terhenti karenanya Pandangannya kabur Samar-samar namun jelas mengenalinya Wajahnya tak hanya mungil, namun pupil dari bulatnya mata juga tampak mengecil saat saling bertatapan Oh ternyata pandangannya kosong Bayangan itu memandangku penuh keheranan Ada kekesalan yang aku tahan Kuinjakkan kakiku di genangan Wajah itu kabur lalu jelas kembali secara perlahan Kali ini wajah bodoh yang kulihat Wajah ini memang bangsat Mungkin otaknya sudah berkarat Bayangan itu sudah kotor bercampur tanah liat Bodohnya aku Melihat bayangan wajah beberapa tahun silam Ternyata itu diriku yang dibutakan dendam Diriku yang masih mendambakan lebam