Skip to main content

Posts

Perihal Mengingat

Aku tumpahkan dengan sengaja Kalimat cinta kasih dan kerinduan Aku kira aku akan segera berakhir di tepian Tak bernyawa Tak berjiwa Tak punya apa-apa Aku kira aku akan jatuh Dimana tak seorangpun melihat dan mendengar Hingga kutemukan bintik kecil di kejauhan Tak terang namun terasa hangat Kucoba menggapainya Kesederhanaan rupanya Dialah cintaku Yang setiap waktu tumbuh bersama Entah bagaimana aku bisa menggambarkan Terlalu sulit untuk menjadi jelas Aku kira aku akan berakhir menjadi Umpan kehidupan Yang ditelan mentah-mentah oleh cerdiknya dunia Aku kira aku akan mati Segera berakhir tak kenali apapun Hingga kutemukan dirinya yang perlahan berwujud Dialah kasihku Yang setiap pagi kunantikan tawanya Menunggu kabarnya dari seberang Sentuhan kulit yang tak terlalu halus Tapi sangat kuat Kini aku bisa merasakannya Tak banyak harapan yang aku sebutkan Biarlah kita berjalan beriringan Untuk beberapa ribu tahun kemudian Perihal mengingatmu Aku ...
Recent posts

Lebam

Beberapa tahun silam Saat dingin mulai mencekam Kulihat bayangan wajah mungil di genangan, bekas hujan semalaman Langkahku terhenti karenanya Pandangannya kabur Samar-samar namun jelas mengenalinya Wajahnya tak hanya mungil, namun pupil dari bulatnya mata juga tampak mengecil saat saling bertatapan Oh ternyata pandangannya kosong Bayangan itu memandangku penuh keheranan Ada kekesalan yang aku tahan Kuinjakkan kakiku di genangan Wajah itu kabur lalu jelas kembali secara perlahan Kali ini wajah bodoh yang kulihat Wajah ini memang bangsat Mungkin otaknya sudah berkarat Bayangan itu sudah kotor bercampur tanah liat Bodohnya aku Melihat bayangan wajah beberapa tahun silam Ternyata itu diriku yang dibutakan dendam Diriku yang masih mendambakan lebam

Perempuan

Memaknai perempuan dalam kehidupan ini tidaklah sulit. Sederhana saja, ketika mengingat sosok yang mengandung dan melahirkan kita, itulah perempuan. Dan hal itu hanya segelintir kemampuan hebat yang hanya dimiliki oleh perempuan. Menurut pandangan saya, selain ibu, perempuan adalah saya . Dalam hal ini, saya mewakili "segelintir" populasi perempuan yang sedikit banyak memiliki perjalanan hidup selama 20-an tahun -belum lama, pastinya. Pertengahan tahun 2018, saat ini, saya sedang menempuh tugas akhir di "salah tempat". Mengapa disebut "salah tempat"? Ya, karena saya memang menjadi satu dari sekian ribu mahasiswa yang salah mengambil jurusan. Garis kehidupan yang menuntut sosok perempuan seperti saya dengan penerimaan keputusan orang tua, hati nurani, dan keinginan cukup membingungkan. Mungkin pada fase ini perempuan yang lain juga turut merasakan. Sejak lahir selalu mencoba menjadi seseorang yang peduli, aktif, dan menyenangkan membuat saya tumbuh me...

Bangunan dan Tiang Listrik

Sudah hancur saja bangunan ini Padahal hari masih sore dan malam masih panjang Hancur hanya karena setetes rintik hujan Yang jatuh keraspun tak mampu mengikis bangunan ini Jelas seperti yang kuingat Bangunan ini masih baru, masih dapat kurasakan aromanya Bahkan semakin hari semakin lengkap akan fasilitas Padahal bangunan ini sangat ramah lingkungan Sang pemilik, salah satunya adalah pecinta lingkungan Gemar menanam pohon dan bunga Tak hanya lingkungan, masyarakat disekitar juga sangat diperhatikan Baru kemarin aku memasangkan tiang listrik didepan bangunanku Tiang listrik dengan segala kerumitan kabelnya Kabel rumit dengan tegangan listrik yang tinggi Yang mungkin membahayakan, bila orang tak lihai listrik didekatnya Aku Sebagai salah satu pemilik bangunan ini Menyukai kerumitan kabel listrik di sekitar Apalagi dengan latar senja, awan subuh, terik matahari, dan bahkan gemerlap lampu malam Entah aku ini gila atau terlalu sederhana sekali menemukan bahagia Yang jelas...

Si Lancang

Lancang! Kau sebut aku apa Kau anggap aku apa Kau buta Tak pernah melihat apapun Lancang! Renggut semua kebebasan Ambil semua hak Rebut semua harapan Kau tuli Tak pernah mendengar apapun Lancang! Lucuti senjata milikku Rampas kedamaianku Hancurkan rumahku Remukkan belulangku Kau bisu Tak pernah membicarakan apapun Lancang! Porak porandakan daratan Menutup sanubari Menebar benci Ciptakan amarah Kau licik Iya itu kau, Si Lancang!

Lagi-lagi Kau

Lagi-lagi Lagi-lagi Lagi-lagi seperti ini Kali ini ada bocah yang memanggil Terdengar samar nan menggelitik Lagi-lagi rindu ini Lagi-lagi rasa ini Akhir pekan ini sungguh sulit kulalui Hiruk pikuk ini lagi Taukah kau? Lagi-lagi kau Kemelut rembulan mengarungi Setiap malam aku menanti Kau sang pujaan hati Taukah kau? Lagi-lagi kau Penyebab dada ini sakit Aliran syaraf terhimpit Fikiran terasa sempit Paru-paru ku seakan meringkih Taukah kau? Lagi-lagi kau Muara kecemasanku malam ini Lagi-lagi kau Lagi-lagi

Sesat Sesaat

Hai Sepertinya aku melihat samar-samar tangan yang melambai Sesaat kurasakan ada rindu yang menyeringai Walau hanya sesaat Deburan itu sangat hebat Hingga kusadari kutersesat Iya, ternyata aku benar-benar tersesat Lorong ini seperti tak berujung Aku rindu, sangat rindu Aku rindu memetakan tubuhmu Aku rindu menyematkan hatiku padamu Meniti setiap ceritamu Yang selalu kau simpan hanya untukku Aku rindu Aku selalu rindu Padamu yang merapikan rambutmu Mengusap pipiku Dan menahan rasa kantukmu demi menemaniku Andai kita selalu bersama Andai tak ada rasa lelah Pun tak ada duri-duri penghambat Rindu ini tak akan menggugat Ah sudahlah Ini hanya sesaat Setidaknya aku selalu suka mengenai perandaian tentang kita