Skip to main content

Perempuan

Memaknai perempuan dalam kehidupan ini tidaklah sulit. Sederhana saja, ketika mengingat sosok yang mengandung dan melahirkan kita, itulah perempuan. Dan hal itu hanya segelintir kemampuan hebat yang hanya dimiliki oleh perempuan. Menurut pandangan saya, selain ibu, perempuan adalah saya. Dalam hal ini, saya mewakili "segelintir" populasi perempuan yang sedikit banyak memiliki perjalanan hidup selama 20-an tahun -belum lama, pastinya. Pertengahan tahun 2018, saat ini, saya sedang menempuh tugas akhir di "salah tempat". Mengapa disebut "salah tempat"? Ya, karena saya memang menjadi satu dari sekian ribu mahasiswa yang salah mengambil jurusan. Garis kehidupan yang menuntut sosok perempuan seperti saya dengan penerimaan keputusan orang tua, hati nurani, dan keinginan cukup membingungkan. Mungkin pada fase ini perempuan yang lain juga turut merasakan.
Sejak lahir selalu mencoba menjadi seseorang yang peduli, aktif, dan menyenangkan membuat saya tumbuh menjadi perempuan. Teringat akan cita-cita masa kecil yang mainstream, saat ini saya justru lebih tertarik pada banyak hal diluar itu. Ternyata saya tumbuh justru di "salah tempat" ini. Cukup membingungkan memang, ketika kita harus melewati masa sulit untuk mendapatkan pengalaman yang lebih baik. Entah apa jadinya saya jika mendapatkan tempat yang tepat untuk menempuh pendidikan sarjana ini. Mungkin saya akan terlena, atau justru akan berkembang pesat dengan cepat melebihi saya sekarang. Mengutip dari buku Mark Manson berjudul The Subtle Art of Not Giving A F*ck yakni, "menginginkan pengalaman positif adalah sebuah pengalaman negatif, menerima pengalaman negatif adalah sebuah pengalaman positif" membuat saya semakin sadar saat saya menerima keputusan untuk mengambil "salah tempat" ini justru membentuk pribadi perempuan saya.
Entah sebuah pelarian dari kebosanan aktifitas "salah tempat" ini atau yang lain, saat ini saya lebih tertarik ke tujuan yang lebih sederhana dari cita-cita masa kecil saya. Melihat peristiwa dari sudut pandang yang berbeda dan mencoba menjadi bermanfaat bagi orang lain tanpa melepaskan hal-hal yang disukai. Justru terbesit keinginan untuk menyalurkan apa yang saya sukai pada anak-anak, berkarya dan saling berbagi. Kembali lagi, itu hanya sebuah keinginan yang ingin saya capai nanti, karena mungkin keinginan untuk menyelesaikan segala urusan di "salah tempat" ini semakin tak terbendung. Seperti salah satu nasehat teman saya "Segera selesaikan urusanmu di tempat ini, Anak Muda. Banyak orang yang menantimu untuk berkarya." Rasanya tanpa nasehatpun, saya akan melakukan itu, tenang saja.
Tidak lepas dari sosok perempuan di kehidupan pribadi saya, selain ibu yang sangat tangguh dan pengertian, banyak perempuan-perempuan yang berpengaruh di sekeliling saya. Misalnya seperti kelembutan hati dan kepedulian Lady Di, ketangguhan estetika Frida Kahlo, dan kerennya Patti Smith. Selain itu masih banyak perempuan yang berpengaruh besar dan menjadi icon di era-nya. Itulah mengapa saya sangat berhasrat dan selalu tertarik perihal perempuan. Tak asing bagi saya, caci maki, sindiran, dan segala keangkuhan yang diutarakan pada perempuan. Tak heran pula banyak perempuan yang sangat memperjuangkan hak dan kemerdekaannya akhir-akhir ini. Saya sebagai perempuan yang cukup aktif di social media merasa janggal dengan tingkah laku orang yang kurang "memanusiakan manusia". Entah apa yang mendorong perilaku tersebut. Perkembangan zaman yang sangat pesat memberikan andil yang sangat besar akan itu. Dan tentulah, hal itu pula yang menggerakkan saya untuk ikut terlibat meski lewat "curhatan dobol" tulisan saya.
Dengan membaca artikel, buku, dan lain sebagainya yang didukung dengan kecanggihan teknologi, seperti halnya perempuan lain saya juga ingin memperjuangkan kemerdekaan hak saya. Melalui keinginan-keinginan kecil yang ingin saya wujudkan, tentunya. Karena perasaan yang tulus dan murni yang dimiliki oleh setiap perempuan, saya tahu untuk mencapai sesuatu tidaklah mudah. Dan pencapaian manusia sesungguhnya di dunia adalah berbahagia. Bagi perempuan, mendapatkan sebuah ketenangan tidaklah mudah. Seperti yang saya alami saat ini. Saya tahu tujuan yang ingin saya capai, dan petualangan yang ingin saya alami ini baik bagi semesta. Namun kembali lagi perihal perasaan yang dimiliki perempuan membuat otak saya harus memutar dan mempertimbangkan segala aspek dan hati saya cukup terguncang hingga melahirkan dilema. Ketika hati mudah tersentuh, pikiran terus bertambah, sehingga banyak pertimbangan yang membuat saya agak "tidak waras", seperti pikiran Mersault, tokoh dalam novel karya Albert Camus berjudul A Happy Death, "Ketenangan adalah kesabaran. Semua bisa dimenangkan dan diraih." Oleh karena itu, bersabar ya, ladies. Saya tahu saya tidak sendiri memiliki dilema ini. Saya juga tahu apa yang mungkin kebanyakan perempuan rasakan. Dan intinya, tetap jadi diri sendiri untuk menjalani usaha menuju bahagia. Tetap menjadi yang teristimewa. Karena saya adalah perempuan.

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Menemukanmu, Stixy -2016-

9 ilustrasi saya berikut ini merupakan karya saya tahun 2016 Setiap ilustrasi yang aku buat selalu dengan usaha untuk memperbaiki dan terus bereksperimen. Tahun 2016, dimana saya menemukan karakter 'Stixy' sebagai seorang gadis berambut pendek yang selalu penasaran akan banyak hal. Dan ditahun inilah aku menemukan konsep kehidupan sehari-hari yang di- mix dengan pengembangan imajinasi.

Sesat Sesaat

Hai Sepertinya aku melihat samar-samar tangan yang melambai Sesaat kurasakan ada rindu yang menyeringai Walau hanya sesaat Deburan itu sangat hebat Hingga kusadari kutersesat Iya, ternyata aku benar-benar tersesat Lorong ini seperti tak berujung Aku rindu, sangat rindu Aku rindu memetakan tubuhmu Aku rindu menyematkan hatiku padamu Meniti setiap ceritamu Yang selalu kau simpan hanya untukku Aku rindu Aku selalu rindu Padamu yang merapikan rambutmu Mengusap pipiku Dan menahan rasa kantukmu demi menemaniku Andai kita selalu bersama Andai tak ada rasa lelah Pun tak ada duri-duri penghambat Rindu ini tak akan menggugat Ah sudahlah Ini hanya sesaat Setidaknya aku selalu suka mengenai perandaian tentang kita