Skip to main content

Semesta Stixy: Awal Yang Janggal

ditulis tanggal 13 Januari 2016, sebuah pengawalan yang janggal...


Berdiri seorang diri menatap langit gemuruh diterpa angin, berteduh di depan minimarket sembari meneguk kopi hangat. Tanda tangan, restu, dan biaya yang menjadi beban, sedangkan tahun ajaran baru akan dimulai. Syukur persediaan dan barang angan telah digenggam, bersisa kelengkapan kewajiban lain yang harus terpenuhi. Stixy berulang kali memutar otak untuk menemukan jalan keluar. Terlihat dari kejauhan, menusia mungil bermata lebar bermuka kusam dan lusuh berlari entah untuk berteduh, menemui Stixy, atau keduanya.
            “Kak Stixy!” menghela nafas “apa kau akan pergi atau hanya sekedar ingin bermain di tempat lain?”
            “Memangnya kenapa?” menalikan tali sepatu “udah, yang penting kamu terus bermimpi, lakukan apa yang harus dilakukan dengan baik, dan ingat orang lain ada di sekitarmu,”
            Manusia mungil itu bernama Bunga, seorang anak yang tinggal di bawah kolong jembatan. Bunga hanyalah salah satu dari sekian banyak anak yang sering menjadi perhatian dan motivasi Stixy. Gadis mungil itu duduk disamping Stixy dan menyandarkan kepalanya. Stixy hanya terdiam dan semakin kacau pikirannya. Dia mengusap wajah gadis mungil yang lusuh itu dengan kain dari jaket yang dikenakannya. Stixy berdiri dan ingin beranjak dari tempat itu. Namun tidak lupa ia merogoh saku untuk menemukan sisa receh kembalian kopi yang dibeli untuk diberikan pada Bunga.
            Jalanan sepi usai hujan gerimis yang membasahi kota dingin itu. Stixy berjalan menyusuri jalan menuju ke tempat ia tinggal, sebuah rumah yang disewanya selama ia menempuh pendidikan di kota orang. Gadis berusia dua dekade itu saat ini akan menempuh semester empatnya di sekolah teknik, namun ia mengambil jurusan seni rupa. Rumah yang disewanya bersama kelima temannya penuh warna dan bentuk-bentuk indah, maklum karena keenam mahasiswi tersebut satu jurusan namun hanya berbeda tahun angkatan. Stixy yang termuda.
            “Dariamana saja kamu?” kata Nina, teman satu kamar Stixy.
            “Gak ada cuma jalan-jalan aja,” sahut Stixy dengan ketus.
            Mereka berdua tak banyak bicara dan tidak terlalu dekat meski tidur dalam satu ruangan yang sama. Stixy seringkali merasa tidak cocok dengan teman sekamarnya itu lantaran sikapnya yang terkesan sedikit sombong dan tidak mempedulikan perasaan orang lain ketika berbicara. Stixy lebih sering menghabiskan waktu untuk menggambar, mural, atau keluar dari rumah kontrakan.
            Kala itu kehidpan Stixy sedikit kacau, meski sering ia menemui situasi seperti ini. Keadaan pikiran dan peristiwa yang tidak asing ini justru semakin mengusik ketenangan jiwanya. Sebenarnya hal ini tak perlu ia fikirkan, karena ini bukan tanggung jawabnya, namun tetap saja terfikirkan karena ini menyangkut hidupnya. Dengan pena ia menuliskan segala kegundahan hati disertai dengan ilustrasi berupa coretan kesal yang dapat mewakili suasana hatinya.
            Berulang kali Stixy mencoba untuk mencari jalan keluar lain yang lebih mengarah kea rah yang salah seperti minuman keras. Kebiasaan merokok masa labil kini terulang kembali. Berdering keras suara dari telepon genggam Stixy. Dilihatnya telepon itu dari sang ibunda. Lalu ia bergegas mengagkat panggilan itu.
            “Halo Assalamu’alaikum, iya, Ma?”
            “Wa’alaikumsalam. Gimana kabarmu disana? Kamu akan pulang atau tidak?”
            “Loh, bukan seharusnya aku yang tanya kabar mama disana? Gak tahu, Ma. Menurut Mama enaknya gimana? Apa aku harus pulang?” sahutan Stixy dengan wajah muram.
            “Ya menurutmu gimana kabar Mama? Mama ya tetap seperti ini, Bapakmu ya tetap seperti itu, nak. Kalo masalah pulang atau tidak itu turuti kemauanmu aja. Untuk biaya kuliahmu sekarang tunggu ditransfer, ya.” kemudian menghela nafas panjang yang terdengar oleh Stixy
            “Stixy coba cari usaha, Ma. Coba cari kerja sambilan. Stixy akan coba semuanya,” ucap Stixy dengan lirih.
            Percakapan melalui telepon genggam itu berakhir kecut. Stixy tak banyak lagi bicara dan bercerita seperti biasanya. Stixy kembali merenung memikirkan banyak hal yang tak tahu akan kemana ujungnya. Melihat persediaan uang saku yang sangat tipis, kegundahan hati menghampiri kembali. Mendengar tingkah laku sang ayah yang tak lagi sama seperti yang biasa ia kenal, semakin hancur hatinya. Kini hidup Stixy tak lagi sama. Stixy yang mudah sekali untuk mengeluarkan rupiah demi teman ataupun orang lain disekitarnya yang lebih membutuhkan, kini dia merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain.
            Hari demi hari dilewati oleh gadis berambut pendek itu untuk menghitung semua keuangan. Merencanakan semua hal yang menurutnya dapat menjadi peluang untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah. Sempat terfikirkan oleh Stixy untuk berhenti menempuh pendidikan yang saat ini sedang dijalaninya. Namun keputusan itu sangat berat mengingat kehidupan di era globalisasi ini menilai kualitas seseorang melalui pendidikannya. Pada akhirnya Stixy memilih untuk tetap melanjutkan pendidikannya dengan baik sehingga ia dapat mengambil beasiswa dan waktu menuju kelulusan tidak tertunda-tunda.
            Sabtu pagi tepat pukul 4, seperti biasa semua alarm Stixy berdering. Stixy yang semula agak pemalas dan sering menyepelekan pekerjaan segera beranjak dari tempat tidur dan menjalankan ibadahnya. Mengingat banyak sekali rencana yang ia buat, ia segera melanjutkan aktivitasnya. Terusik dalam benak kerinduan Stixy pada rumah, utamanya kepada sang bunda dan adik perempuannya yang masih kecil. pagi itu Stixy memutuskan untuk kembali ke tempat ia dilahirkan sekaligus melepas rasa penatnya di perantauan yang dipenuhi hiruk-pikuk manusia yang sedang memperjaungkan hidupnya masing-masing.
            Keesokan harinya Stixy mengunjungi rumah singgah yang disewa oleh beberapa dermawan untuk tempat belajar anak-anak jalanan dimana Stixy sering menjadi teman sekaligus pengajar relawan bagi anak-anak yang kurang beruntung dalam kehidupannya. Rumah singgah tampak sunyi dengan pintu terbuka. Stixy meyakini meski sepi tapi pasti akan selalu ada anak yang mengunjungi tempat itu. Ternyata pengunjung rumah singgah saat itu adalah Bunga si gadis mungil yang sedang serius membaca buku cerita. Stixy menghampiri anak didik kesayangannya itu dan mereka saling berbincang.
            “Assalamu’alaikum” mengambil sapu dan menyapu teras rumah singgah.
            “Wa’alaikumsalam, Kak Stixy!” berlari dan mencium tangan Stixy.
            Duduk berdua di teras sembari menikmati angin panas yang berhembus. Mereka saling berbincang dan bercanda. Stixy menceritakan tentang kehidupannya yang saat ini sedang kacau, namun dengan kata-kata yang tidak menyulitkan Bunga meski gadis kecil itu tak akan paham maksud dari cerita sang kakak pengajarnya. Tak lama waktupun melahap hari yang Stixy lewati. Akhirnya gadis berambut pendek itu berpamitan pada Bunga dan menitipkan banyak pesan.
            “Ya sudah, kakak pamit dulu ya,” sembari memasang sepatu
            “Oke siap, Kak!” tersenyum lebar melihatkan gigi ompongnya.
            Berkendara menuju kampung halaman, Stixy terlelap karena perjalanan yang ia tempuh sangat memakan waktu. Sesampainya ia dirumah, disambut hangat oleh sang ibunda tercinta. Dipeluknya erat tak kuasa menahan rindu yang sangat pekat. Tak hanya rindu, sang ibunda juga tak sabar untuk meluapkan semua keluh kesah pada anak gadisnya itu. Sang ayah hanya melihat dari kejauhan dan acuh pada anak gadisnya yang sering menegur sikapnya dirumah.
            Setelah mendengar segala keluh kesah dan perasaan dari sang ibunda, Stixy menghampiri sang ayah yang berubah menjadi acuh dan tidak bertanggung jawab. Seperti biasa, Stixy sangat berani apabila terjadi sesuatu yang salah dalam keluarganya, utamanya masalah sikap. Stixy memerah, hatinya panas, dadanya sesak, ingin mengeluarkan segalanya dengan amarah, namun ia sadar amarah hanya akan mempersulit masalah. Akhirnya ia mengajak bicara sang ayah.
            “Kalau kamu pulang hanya ingin berbicara seperti itu, lebih baik kamu tidak usah pulang! Dasar anak macam apa kamu ini!” sahut pahit sang ayah
            “Ya Stixy hanya mengatakan apa yang harus dikatakan, Pak. Bapak harusnya lebih sadar, selain itu Bapak juga sudah tidak muda, harusnya lebih mengerti,” menghela nafas panjang menahan amarah yang meluap-luap.
            Adu mulut tak dapat dihindari antara ayah dan anak itu. Stixy akhirnya tak dapat menahan amarah yang selama ini mengusiknya sepanjang hari. Gadis itu sudah geram dengan tingkah laku ayahnya yang semakin menjadi-jadi. Sang ibu juga terhanyuk dalam kobaran amarah keduanya, akhirnya mereka bertiga saling beradu mulut dan menghasilkan pernyataan yang sangat menyakitkan bagi Stixy. Akhir kemarahan, Stixy berkemas dan pergi dari rumah itu.

Comments

Popular posts from this blog

Menemukanmu, Stixy -2016-

9 ilustrasi saya berikut ini merupakan karya saya tahun 2016 Setiap ilustrasi yang aku buat selalu dengan usaha untuk memperbaiki dan terus bereksperimen. Tahun 2016, dimana saya menemukan karakter 'Stixy' sebagai seorang gadis berambut pendek yang selalu penasaran akan banyak hal. Dan ditahun inilah aku menemukan konsep kehidupan sehari-hari yang di- mix dengan pengembangan imajinasi.

Perempuan

Memaknai perempuan dalam kehidupan ini tidaklah sulit. Sederhana saja, ketika mengingat sosok yang mengandung dan melahirkan kita, itulah perempuan. Dan hal itu hanya segelintir kemampuan hebat yang hanya dimiliki oleh perempuan. Menurut pandangan saya, selain ibu, perempuan adalah saya . Dalam hal ini, saya mewakili "segelintir" populasi perempuan yang sedikit banyak memiliki perjalanan hidup selama 20-an tahun -belum lama, pastinya. Pertengahan tahun 2018, saat ini, saya sedang menempuh tugas akhir di "salah tempat". Mengapa disebut "salah tempat"? Ya, karena saya memang menjadi satu dari sekian ribu mahasiswa yang salah mengambil jurusan. Garis kehidupan yang menuntut sosok perempuan seperti saya dengan penerimaan keputusan orang tua, hati nurani, dan keinginan cukup membingungkan. Mungkin pada fase ini perempuan yang lain juga turut merasakan. Sejak lahir selalu mencoba menjadi seseorang yang peduli, aktif, dan menyenangkan membuat saya tumbuh me...

Sesat Sesaat

Hai Sepertinya aku melihat samar-samar tangan yang melambai Sesaat kurasakan ada rindu yang menyeringai Walau hanya sesaat Deburan itu sangat hebat Hingga kusadari kutersesat Iya, ternyata aku benar-benar tersesat Lorong ini seperti tak berujung Aku rindu, sangat rindu Aku rindu memetakan tubuhmu Aku rindu menyematkan hatiku padamu Meniti setiap ceritamu Yang selalu kau simpan hanya untukku Aku rindu Aku selalu rindu Padamu yang merapikan rambutmu Mengusap pipiku Dan menahan rasa kantukmu demi menemaniku Andai kita selalu bersama Andai tak ada rasa lelah Pun tak ada duri-duri penghambat Rindu ini tak akan menggugat Ah sudahlah Ini hanya sesaat Setidaknya aku selalu suka mengenai perandaian tentang kita