Skip to main content

Posts

Showing posts from March, 2018

Bangunan dan Tiang Listrik

Sudah hancur saja bangunan ini Padahal hari masih sore dan malam masih panjang Hancur hanya karena setetes rintik hujan Yang jatuh keraspun tak mampu mengikis bangunan ini Jelas seperti yang kuingat Bangunan ini masih baru, masih dapat kurasakan aromanya Bahkan semakin hari semakin lengkap akan fasilitas Padahal bangunan ini sangat ramah lingkungan Sang pemilik, salah satunya adalah pecinta lingkungan Gemar menanam pohon dan bunga Tak hanya lingkungan, masyarakat disekitar juga sangat diperhatikan Baru kemarin aku memasangkan tiang listrik didepan bangunanku Tiang listrik dengan segala kerumitan kabelnya Kabel rumit dengan tegangan listrik yang tinggi Yang mungkin membahayakan, bila orang tak lihai listrik didekatnya Aku Sebagai salah satu pemilik bangunan ini Menyukai kerumitan kabel listrik di sekitar Apalagi dengan latar senja, awan subuh, terik matahari, dan bahkan gemerlap lampu malam Entah aku ini gila atau terlalu sederhana sekali menemukan bahagia Yang jelas...

Si Lancang

Lancang! Kau sebut aku apa Kau anggap aku apa Kau buta Tak pernah melihat apapun Lancang! Renggut semua kebebasan Ambil semua hak Rebut semua harapan Kau tuli Tak pernah mendengar apapun Lancang! Lucuti senjata milikku Rampas kedamaianku Hancurkan rumahku Remukkan belulangku Kau bisu Tak pernah membicarakan apapun Lancang! Porak porandakan daratan Menutup sanubari Menebar benci Ciptakan amarah Kau licik Iya itu kau, Si Lancang!

Lagi-lagi Kau

Lagi-lagi Lagi-lagi Lagi-lagi seperti ini Kali ini ada bocah yang memanggil Terdengar samar nan menggelitik Lagi-lagi rindu ini Lagi-lagi rasa ini Akhir pekan ini sungguh sulit kulalui Hiruk pikuk ini lagi Taukah kau? Lagi-lagi kau Kemelut rembulan mengarungi Setiap malam aku menanti Kau sang pujaan hati Taukah kau? Lagi-lagi kau Penyebab dada ini sakit Aliran syaraf terhimpit Fikiran terasa sempit Paru-paru ku seakan meringkih Taukah kau? Lagi-lagi kau Muara kecemasanku malam ini Lagi-lagi kau Lagi-lagi

Sesat Sesaat

Hai Sepertinya aku melihat samar-samar tangan yang melambai Sesaat kurasakan ada rindu yang menyeringai Walau hanya sesaat Deburan itu sangat hebat Hingga kusadari kutersesat Iya, ternyata aku benar-benar tersesat Lorong ini seperti tak berujung Aku rindu, sangat rindu Aku rindu memetakan tubuhmu Aku rindu menyematkan hatiku padamu Meniti setiap ceritamu Yang selalu kau simpan hanya untukku Aku rindu Aku selalu rindu Padamu yang merapikan rambutmu Mengusap pipiku Dan menahan rasa kantukmu demi menemaniku Andai kita selalu bersama Andai tak ada rasa lelah Pun tak ada duri-duri penghambat Rindu ini tak akan menggugat Ah sudahlah Ini hanya sesaat Setidaknya aku selalu suka mengenai perandaian tentang kita

Jemariku enggan menari -2017-

Tahun 2017, jemariku sulit menari. Sedikit karya ilustrasi yang dapat aku bagikan ke semesta. Sedikit imaji yang bisa kutuangkan.

Menemukanmu, Stixy -2016-

9 ilustrasi saya berikut ini merupakan karya saya tahun 2016 Setiap ilustrasi yang aku buat selalu dengan usaha untuk memperbaiki dan terus bereksperimen. Tahun 2016, dimana saya menemukan karakter 'Stixy' sebagai seorang gadis berambut pendek yang selalu penasaran akan banyak hal. Dan ditahun inilah aku menemukan konsep kehidupan sehari-hari yang di- mix dengan pengembangan imajinasi.

6 ilustrasi favorit tahun 2015

Sejumlah ilustrasi diatas merupakan karya favoritku di tahun 2015. Dimana pada tahun itu aku menemukan karakter astro pada ilustrasi khasku. Alasan mengapa pilih astro bisa langsung tanya pada kolom komentar :) Hingga saat ini, tahun 2015 merupakan tahun yang produktif dan berarti bagiku.

Semesta Stixy: Awal Yang Janggal

ditulis tanggal 13 Januari 2016, sebuah pengawalan yang janggal... Berdiri seorang diri menatap langit gemuruh diterpa angin, berteduh di depan minimarket sembari meneguk kopi hangat. Tanda tangan, restu, dan biaya yang menjadi beban, sedangkan tahun ajaran baru akan dimulai. Syukur persediaan dan barang angan telah digenggam, bersisa kelengkapan kewajiban lain yang harus terpenuhi. Stixy berulang kali memutar otak untuk menemukan jalan keluar. Terlihat dari kejauhan, menusia mungil bermata lebar bermuka kusam dan lusuh berlari entah untuk berteduh, menemui Stixy, atau keduanya.             “Kak Stixy!” menghela nafas “apa kau akan pergi atau hanya sekedar ingin bermain di tempat lain?”             “Memangnya kenapa?” menalikan tali sepatu “udah, yang penting kamu terus bermimpi, lakukan apa yang harus dilakukan dengan baik, dan ingat orang lain ada di sekitarmu,” ...

Rasa-rasa

Sebenarnya apa itu rasa Rasa yang mana yang kau maksud? Beribu macam rasa didunia, bahkan peneliti terus menguak tentang rasa Rasa yang mana? Rasa yang ada dalam dirimu? Dirimu yang mana? Bagian mana? Apa maksudmu? Semua orang berbicara tentang rasa, padahal mereka tetap saling mengkhianati rasa Lolongan ke sok-tahuan terus berkumandang Mereka semua berbicara tentang rasa Padahal rasanya mereka tak berasa Sudut pandang yang ciut membutakan rasa mereka Senandung cengeng, kabut kekuasaan, menyelimuti relung rasanya Rasanya kalau dirasa tak akan mempan dicambuk Dasar tak tahu diri ditulis sekitar dua tahun (2016) lalu, saat menerima mata kuliah tentang 'flavour', hati sedang kalut dan mati rasa

Pribadi.

Setiap perempuan harus kuat dan memegang kendali atas pribadinya. Iya, kuat menghadapi apapun. Entah apapun itu melambungkannya ke angkasa, atau bahkan menguburnya sedalam kerak bahkan inti bumi. Setiap perempuan memliki semestanya sendiri. Bebas. Bebas bukan berarti tak beretika, egois, tak berilmu, dan tidak peduli pada apapun. Sejatinya kita sebagai seorang perempuan harus bisa menjaga diri kita sendiri. Menghadapi segala keadaannya sendiri. Karena tak ada seorangpun yang tahu pasti bagaimana menjadi kita dengan segala dunia, watak, otak, hati, dan fisik yang sama. Saat keseharianku menutup wajah, dan sekilas kehilangan pribadi